Minggu, 22 November 2020

Laut pasrah

Aku masih disini, berdiri di tempat paling tinggi, disini. 

Dijalan jantung negeri ini

Biarkan aku menulis, biar nasib tetaplah nasib


Biar kan anak-anak itu bersyukur atas air laut yang sebentar itu

Biarkan mereka bahagia.

Kita juga masih disini

Berjingkat-jingkat

Bersyukur pun kita masih terhina

Lalu kenapa memaki


Rasakanlah ...

Perlahan air berwarna kopi susu itu mulai merayap menggelitik bulu kaki ku

Ah, mungkin dia menyapa, biarkan saja ...

Biarkan seperti ini, biar ada cerita untuk lusa

Pasang keling di atas jalan kelemantan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih